Kejenuhan Kuliah
Oleh : rizki
Seorang teman pernah bertanya kepada temannya, ”Kau kuliah di mana..?” dia menjawab, “ Aku kuliah di Unimed.” Jurusan apa ?, katanya lagi,”jurusan fisika.” Mau jadi guru ya… , katanya pada temannya. Ah.. enggak, aku ngambil program non kependidikan. Mau jadi apa… ledeknya pada temannya lagi. Dia hanya terdiam dan ngggak bisa ngomong apa-apa.
Percakapan di atas merupakan kisah nyata, dan itulah yang terjadi. Sejak beberapa semester ini ia mencoba merenungi,” untuk apa aku kuliah. Semua terasa beda, saat tahun kemarin melihat namaku di koran sebagai mahasiswa terpilih, rasanya aku adalah seorang pemenang. Tapi ternyata aku belum menang,” Ujarnya. Ini belum berakhir, ibarat perang, kemenangan itu ternyata masih tahap penseleksian volentir. Percakapan ini, sering terjadi di sekitar kita dan telah membuka mata hatinya yang selama ini tertutup. Ia iri kepada mereka yang memilih jurusan berprogram kependidikan, setelah tamat mereka akan mudah mencari kerja, akan tetapi ia tidak tahu harus ke mana. Bukan rahasia lagi, bahwa tamatan jurusan sains susah mendapatkan kerja. Itu karena di Indonesia, khususnya di Medan, belum ada perusahaan yang membutuhkan keahlian jurusan ini, kalau ada pun itu hanya segelintir perusahaan yang program kerjanya dikhususkan pada penelitian dan pengembangan produk atau program yang sedang mereka jalankan. Di sini, Keahlian di bidang itu, dianggap seperti barang rongsokan. Namun, di luar negeri sana, keahlian seperti itu sangat diperlukan. Bahkan bukan hanya di bidang sains dan teknologi tapi juga di bidang ekonomi dan politik.
Memang, tidak ada yang bisa disalahkan. Keadaan ini bukan hanya disebabkan oleh permintaan pasar saja, namun sudah menjadi masalah yang kompleks dan terlalu panjang jika semua diuraikan. Untuk sekarang kita hanya bisa menanyakan kepada diri kita sendiri, mau apa kita ke depan nanti ?
Sebagai mahasiswa khususnya jurusan ilmu murni, seharusmya sadar akan keadaan ini dan mau cepat bertindak. Jangan hanya belajar untuk mengejar IPK yang tinggi. Kita dituntut untuk dapat menunjukkan jati diri kita dan peran kita di masyarakat. Film spiderman II mengingatkan akan perkataan Dr Oct, “inteligensi harus dapat digunakan untuk kebaikan manusia.” Perkataan itu dapat dijadikan pertimbangan agar tidak hanya belajar keras tapi juga harus bekerja dan mengaplikasikan ilmu serta keahlian yang diperoleh selama kuliah untuk kepentingan orang banyak dan bukan hanya untuk kepentingan pribadi. Walaupun tokoh Dr Oct adalah peran antagonis namun perkataannya adalah perkataan seorang ilmuan sejati yang belum dimiliki oleh kebanyakan mahasiswa jurusan sain di indonesia, khususnya jurusan sains.
Salah satu cara yang di tawarkan adalah membentuk suatu komunitas dan membagi tugas. Bukan rahasia lagi bahwa selama ini, mahasiswa di beberapa jurusan sains, di UNIMED khususnya, terkenal akan ke-cuek-kan masing-masing mahasiswa-nya. Hal ini tidak lain disebabkan karena mahasiswanya hanya duduk, belajar, membahas ilmu yang sudah dibahas sebelumnya, dan mengejar IP setinggi-tingginya. Secara tidak sadar kita hanya berkeliling-keliling di sekitar lingkungan dan situasi yang sama.
Memang, diakui bahwa tanpa membahas itu akan sangat sulit untuk memahami ilmu murni dan penerapannya, namun tanpa penerapan dan pengembangan yang nyata semua itu bagaikan barang rongsok belaka.
Belum terlambat untuk menyadari hal ini. Seperti sebuah sumber yang dikutip mengatakan bahwa “sebaik-baiknya manusia adalah berguna bagi manusia yang lain.” Pernyataan ini mengandung makna akan kekompakan untuk mencapai tujuan dan kesejahteraan bersama. Nah, akankah kita akan diam saja, menunggu tamat, menjadi penonton budiman, dan lari dari tujuan ketika mulai merasa penat akan beban hidup atau mengambil peran di atas panggung dunia ini.

UNIMED tuh apa?
Comment by dio — June 7, 2007 @ 8:58 am